28 Agustus 2008

Mengenang Peristiwa Kebangkitan Nasional ( Part III )

Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional

Tanggal 20 Mei 2008 tepat seratus tahun kita merayakan Kebangkitan Nasional. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-100 tahun ini menjadi momentum untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Momentum ini ditandai dengan berbagai kegiatan dan aktifitas yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh komponen bangsa.
Melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 5 tanggal 25 Februari 2008 telah dibentuk Panitia Nasional Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, sebagai Ketua telah ditunjuk Menteri Sekretaris Negara Bpk. Hatta Rajasa, Wakil Ketua Menteri Komunikasi dan Informatika Bpk. Muhammad Nuh, Ketua Harian Bpk. Chairul Tanjung dan Wakil Ketua Harian Bpk. Ishadi SK.
Panitia Nasional bertugas mengadakan persiapan penyelenggaraan peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional dengan melakukan kerjasama dengan berbagai departemen, lembaga pemerintah non departemen, pemerintah daerah, instansi pemerintah lainnya dan pihak lain yang dianggap perlu. Mempersiapkan pedoman dan petunjuk yang diperlukan untuk kegiatan tingkat pusat, tingkat daerah dan di lingkungan masyarakat. Menggerakkan semua komponen bangsa untuk berperan serta dalam penyelenggaraan kegiatan yang berkaitan dengan peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional.
Visi dari Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional adalah meningkatkan kesadaran berbangsa, menguatkan jati diri, dan bergerak menuju bangsa maju di dunia. Adapun misinya, menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran dan semangat juang masyarakat. Memperkuat kepribadian bangsa, memperkokoh nilai-nilai budaya bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional. Mempertebal (memperkuat) jiwa persatuan dan kesatuan bangsa dalam mewujudkan Indonesia yang damai (peace), adil (justice) demokratis (democracy).
Rangkaian kegiatan peringatan diawali dengan “Pagelaran Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional Indonesia” yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2008 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Pada saat itu Presiden Republik Indonesia akan mencanangkan tahun Kebangkitan Indonesia dengan slogan “Indonesia Bisa!” dan Logo resmi yang telah ditetapkan.
Slogan dan Logo 100 tahun Kebangkitan Nasional diharapkan dapat ditayangkan oleh seluruh media televisi dan cetak, seluruh penerbitan dokumen resmi pemerintah dan dapat dipasang oleh setiap instansi / organisasi masyarakat yang melaksanakan kegiatan peringatan Hari Kebangkitan Nasional.
Logo Peringatan 100 tahun Kebangkitan memiliki makna sesuai dengan visi dan misinya. Tiga bendera melambangkan tiga visi dan misi, huruf “Indonesia” yang berwarna merah melambangkan “tekad” dan “keberanian”, huruf “Bisa” berwarna hitam melambangkan “ketegasan”.
Kegiatan utama peringatan Hari Kebangkitan Nasional juga ditandai dengan :
Pagelaran peringatan Kebangkitan Nasonal Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta pada tanggal, 20 Mei 2008.
Penayangan PSA (Public Service Announcement) di seluruh stasiun televisi nasional maupun lokal, RRI & PRSSNI, media cetak dan media luar ruang.
Kunjungan Presiden RI ke seluruh propinsi untuk mengikuti kegiatan nasional di masing-masing propinsi.
Segenap rangkaian kegiatan Kebangkitan Nasional selama setahun di seluruh wilayah Indonesia yang diselenggarakan oleh masyarakat maupun instansi pemerintah dan swasta di kota-kota besar hingga desa-desa.

1 komentar:

andreas iswinarto mengatakan...

Jejak Langkah Sebuah Bangsa, Sebuah Nation

Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”

-Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-
Dikutip Kompas di tulisan pembuka liputan khusus Anjer-Panarukan

Saya memberikan apresiasi yang besar kepada Koran Kompas dan juga kalangan pers pada umumnya yang secara intens dan kental mendorong munculnya kesadaran historis sekaligus harapan dan optimisme akan masa depan Indonesia. Mempertautkan makna masa lalu, masa kini dan masa depan. Ini nampak paling tidak sejak bulan Mei secara rutin Kompas memuat tulisan wartawan-wartawan seniornya dan mungkin beberapa orang non wartawan kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional . Patut diapresiasi pula liputan besar Kompas “Ekspedisi 200 Tahun Jalan Pos Anjer-Panaroekan”.

Daniel Dhakidae yang juga menjadi salah satu penulis seri 100 Tahun Kebangkitan Nasional Kompas ini pernah mengatakan bahwa “sejarah bukan masa lalu akan tetapi juga masa depan dengan menggenggam kuat kekinian sambil memperoyeksikan dirinya ke masa lalu. Warisan tentu saja menjadi penting terutama warisan yang menentukan relevansi kekinian. Apa yang dibuat disini adalah melepaskan penjajahan masa kini terhdap masa lalu dan memeriksa kembali masa lalu dan dengan demikian membuka suatu kemungkinan menghadirkan masa lalu dan masa depan dalam kekinian”. (Cendekiawan dan Kekuasaan : Dalam Negara Orde Baru; Gramedia Pustaka Utama, 2003, hal xxxii)

Dalam bukunya itu contoh gamblang diperlihatkan oleh Dhakidae, dimana sebelum sampai pada bahasan masa Orde Baru ia melakukan pemeriksaaan wacana politik etis sebagai resultante pertarungan modal, kekuasaan negara kolonial, dan pertarungan kebudayaan antara Inlander vs Nederlander, antara boemipoetra dan orang Olanda. Baginya zaman kolonial menjadi penting bukan semata sebagai latarbelakang, akan tetapi wacana itu begitu menentukan yang dalam arti tertentu bukan saja menjadi pertarungan masa lalu akan tetapi masa kini.

Kompas saya pikir telah mengerjakan ini dengan sangat baik dan saya mendapatkan pencerahan dari sana (o iya Bung Daniel adalah juga kepala litbang Kompas)

Untuk meningkatkan akses publik ke seluruh tulisan-tulisan berharga ini, saya menghimpun link seri artikel Kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini. Sebelumnya saya juga telah menghimpun link seri liputan Kompas Ekspedisi 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan : Jalan (untuk) Perubahan.

Demikian juga saya telah menghimpun link-link ke artikel-artikel Edisi Khusus Kemerdekaan Majalah Tempo tentang Tan Malaka “BAPAK REPUBLIK YANG DILUPAKAN. Sebagai catatan tulisan tentang Tan Malaka juga ada di dalam seri tulisan Kompas seputar 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Apresiasi tinggi pula untuk Majalah Tempo.

Akhir kata secara khusus saya menaruh hormat kepada Pramoedya Ananta Toer yang telah menjadi ‘guru sejarah’ saya melalui karya-karya sastra dan buku-buku sejarah yang ditulisnya. Saya pikir bukan sebuah kebetulan Kompas mengutip roman Jejak Langkah sebagai pengantar liputan khususnya, juga dari buku Pram Jalan Raya Pos, Jalan Daendels- “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”.

Tidak lain juga sebuah penghormatan kalau tidak pengakuan terhadap sumbangan Pram untuk negeri ini. Diakui atau tidak.

Salam Pembebasan
Andreas Iswinarto

Untuk seri tulisan 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Kipling, Ratu Wilhelmina, dan Budi Utomo; Renaisans Asia Lahirkan Patriotisme Bangsa-bangsa; Semangat Kebangsaan yang Harus Terus Dipelihara; Menemukan Kembali Boedi Oetomo; Ideologi Harga Mati, Bukan Harta Mati; Pohon Rimbun di Tanah yang Makin Gembur; Mencari Jejak Pemikiran Hatta; Membangun Bangsa yang Humanis; Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional; Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan "Ngelmu"; Masa Depan "Manusia Indonesia"-nya Mochtar Lubis, Menolak Kutukan Bangsa Kuli; Pendidikan dan Pemerdekaan; Kembali ke PR Gelombang Ketiga; Kebudayaan dan Kebangsaan; Musik Pun Menggugah Kebangsaan...

Silah link ke
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/jejak-langkah-sebuah-bangsa-sebuah.html

Ekspedisi Kompas 200 Tahun Anjer-Panaroekan
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html

Edisi Kemerdekaan Tempo dan 12 buku online : Tan Malaka
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html

dHaNa bHebeg's Fan Box

 
Copyright (c) 2010 Journal si bhebeg.